Net Protozo – Sungkem merupakan salah satu tradisi khas yang dilakukan saat Lebaran, terutama di masyarakat Jawa. Tradisi ini mengandung makna mendalam, menggabungkan nilai budaya dengan ajaran Islam tentang pentingnya saling memaafkan. Dalam praktiknya, sungkem dilakukan dengan sikap tubuh yang membungkuk sebagai bentuk penghormatan. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk meminta maaf kepada orang tua serta memohon doa restu untuk kehidupan mereka di masa mendatang.
Sebagai bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun, sungkem memiliki peran penting dalam mempererat hubungan keluarga. Tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga menjadi refleksi diri bagi setiap individu untuk lebih menghargai orang yang lebih tua. Melalui sungkem, seseorang diajarkan untuk bersikap rendah hati serta mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Dengan demikian, tradisi ini menjadi salah satu cara efektif dalam memperkuat nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Sungkeman juga memiliki filosofi mendalam yang berkaitan dengan penghormatan dan ketulusan hati. Ketika seseorang melakukan sungkem, ia menunjukkan bahwa dirinya menghargai orang tua dan siap untuk memperbaiki hubungan yang mungkin pernah renggang. Momen ini bukan sekadar seremonial, melainkan juga kesempatan untuk lebih memahami makna dari memaafkan dan meminta maaf dengan tulus. Hal ini semakin memperkuat ikatan batin antar anggota keluarga serta membangun suasana Lebaran yang penuh kebersamaan.
Tradisi sungkeman diyakini berasal dari lingkungan Keraton pada masa Mangkunegara I di abad ke-18. Pada saat itu, tradisi ini diperkenalkan sebagai cara bagi rakyat untuk meminta maaf kepada raja dan permaisuri setelah melaksanakan sholat Idul Fitri. Seiring waktu, praktik ini menyebar luas ke masyarakat umum dan menjadi bagian dari budaya yang dilakukan di berbagai daerah, terutama di Jawa.
Awalnya, sungkeman mungkin hanya dilakukan dalam lingkup kerajaan sebagai bentuk penghormatan terhadap penguasa. Namun, karena nilai-nilainya yang selaras dengan ajaran agama dan budaya setempat, tradisi ini kemudian diadopsi oleh masyarakat secara luas. Kini, sungkem tidak hanya terbatas pada kalangan bangsawan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi keluarga di berbagai lapisan masyarakat. Setiap keluarga melaksanakannya dengan cara yang mungkin sedikit berbeda, tetapi tetap berpegang pada esensi utama, yaitu permohonan maaf dan penghormatan.
Saat melakukan sungkeman, seseorang biasanya mengungkapkan permohonan maaf, ucapan terima kasih, serta harapan baik bagi keluarga. Ungkapan ini tidak hanya bersifat formal, tetapi juga menyampaikan ketulusan hati dalam memperbaiki hubungan yang mungkin pernah mengalami ketegangan.
Baca Juga : Pasien Cuci Darah: Panduan Aman Mudik Lebaran 2025
Dalam permohonan maaf, seseorang menyampaikan rasa penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan, baik yang disengaja maupun tidak. Ucapan ini sering kali disertai dengan doa agar seluruh keluarga senantiasa diberikan keberkahan dan kebahagiaan. Selain itu, sungkem juga menjadi momen untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang tua atas kasih sayang dan bimbingan yang telah diberikan.
Tidak jarang, dalam momen ini, orang tua juga memberikan nasihat serta doa restu kepada anak-anak mereka. Hal ini menjadi simbol bahwa orang tua memberikan dukungan serta harapan agar anak-anak dapat menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan. Dengan demikian, sungkem tidak hanya sebatas tradisi, tetapi juga menjadi wujud komunikasi yang mendalam antara anggota keluarga.
Dalam ajaran Islam, sungkem bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan syariat, selama tidak menyerupai bentuk ibadah khusus seperti sujud. Menurut Ustadz M Mubasysyarum Bih, Islam memperbolehkan seseorang menunjukkan penghormatan kepada yang lebih tua, selama hal tersebut tidak melampaui batas yang diperbolehkan dalam agama.
Dalam salah satu pandangan yang dikutip dari Imam Al-Nawawi dalam kitab Raudlah al-Thalibin, disebutkan bahwa mencium tangan seseorang sebagai bentuk penghormatan bukanlah sesuatu yang dilarang. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kepada seseorang yang memiliki sifat kezuhudan, memiliki ilmu yang luas, atau karena usianya yang lebih tua. Dengan demikian, tradisi sungkem yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan kasih sayang tetap sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Tradisi ini pada akhirnya menjadi salah satu wujud nyata dari ajaran Islam tentang pentingnya menghormati orang tua dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Sungkeman memberikan ruang bagi setiap individu untuk merenungkan kesalahan, memperbaiki hubungan, serta mempererat tali silaturahmi. Oleh karena itu, tradisi ini tetap relevan dan memiliki nilai yang sangat berharga dalam kehidupan masyarakat, khususnya saat merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Simak Juga : Natasha Wilona Tampil Anggun dengan Hijab