Net Protozo – Survei internasional terbaru mengungkap tingkat tekanan psikologis pada Gen Z dan stres mental meningkat tajam di 30 negara, terutama terkait ketidakpastian ekonomi, beban akademik, serta paparan informasi tanpa henti di dunia digital.
Hasil survei di 30 negara menunjukkan mayoritas responden berusia 18–26 tahun melaporkan tingkat kecemasan dan kelelahan mental yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Fenomena ini menempatkan Gen Z dan stres mental sebagai perhatian utama organisasi kesehatan dunia, lembaga pendidikan, dan perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja muda.
Faktor pemicu yang paling sering muncul meliputi tekanan prestasi di sekolah dan kampus, kekhawatiran tidak mendapatkan pekerjaan layak, serta meningkatnya biaya hidup. Di beberapa negara, responden juga menyebut keresahan politik dan perubahan iklim sebagai sumber stres tambahan yang sulit mereka abaikan.
Meski begitu, akses informasi kesehatan mental yang lebih terbuka membuat banyak anak muda lebih berani mengakui masalah yang mereka alami. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Gen Z dan stres mental benar-benar melonjak drastis, atau kesadaran dan pelaporan yang membaik membuat angkanya tampak lebih tinggi.
Survei mencatat empat sumber tekanan paling dominan: akademik, pekerjaan, keuangan, dan media sosial. Tekanan akademik muncul dari tuntutan nilai tinggi, persaingan masuk perguruan tinggi, serta kekhawatiran tertinggal dari teman sebaya. Di dunia kerja, generasi ini dihantui ketidakpastian karier, kontrak sementara, dan ketakutan terhadap gelombang pemangkasan karyawan.
Dari sisi finansial, kenaikan harga sewa, biaya pendidikan, dan kebutuhan dasar membuat banyak responden merasa masa depan mereka tidak seaman generasi orang tua. Selain itu, paparan media sosial yang intens kerap memicu perbandingan sosial, FOMO (fear of missing out), dan rasa tidak cukup, yang memperkuat pola Gen Z dan stres mental di berbagai wilayah.
Sementara itu, batas antara ruang pribadi dan publik makin kabur. Notifikasi yang terus berdatangan membuat otak sulit beristirahat, bahkan saat mereka sedang belajar atau mencoba tidur. Akibatnya, pola tidur terganggu, konsentrasi menurun, dan keluhan psikosomatis seperti sakit kepala atau leher tegang makin sering dikeluhkan.
Walau tren globalnya serupa, ekspresi dan penanganan stres berbeda antara satu negara dengan negara lain. Di beberapa kawasan Asia, misalnya, stigma terhadap masalah kesehatan mental masih kuat sehingga banyak Gen Z memilih diam atau hanya bercerita kepada teman sebaya. Di Eropa dan sebagian Amerika Utara, layanan konseling kampus dan kerja relatif lebih tersedia, meski belum semua orang menggunakannya.
Aspek budaya juga memengaruhi bagaimana Gen Z dan stres mental dipandang. Di masyarakat yang menjunjung tinggi kolektivitas, kegagalan akademik atau karier sering dianggap memalukan bagi keluarga. Tekanan ini menambah beban bagi anak muda yang sudah bergulat dengan tuntutan pribadi.
Baca Juga: Laporan resmi WHO tentang kesehatan mental global dan respons kebijakan
Di sisi lain, negara dengan sistem dukungan sosial lebih kuat cenderung memberikan jaring pengaman finansial dan kesehatan yang menurunkan kecemasan terkait kebutuhan dasar. Meski demikian, survei tetap menemukan kekhawatiran besar soal masa depan planet, kestabilan politik, dan tren teknologi yang mengancam pekerjaan tradisional.
Lembaga pendidikan kini mulai menyadari skala persoalan Gen Z dan stres mental. Banyak sekolah dan universitas memperkuat layanan konseling, mengadakan pelatihan literasi emosi, serta mengatur ulang beban tugas agar lebih realistis. Beberapa kampus juga mulai melatih dosen dan staf untuk mengenali tanda kelelahan mental pada mahasiswa.
Di dunia kerja, perusahaan yang ingin mempertahankan talenta muda mulai mengintegrasikan program kesejahteraan mental, seperti konseling gratis, hari cuti khusus, hingga fleksibilitas kerja jarak jauh. Namun, masih banyak tempat kerja yang memandang masalah kesehatan mental sebatas urusan pribadi, bukan bagian dari tanggung jawab organisasi.
Karena itu, para pakar menilai perlu perubahan paradigma yang mengakui bahwa stres berkepanjangan berdampak langsung pada produktivitas, kreativitas, dan loyalitas karyawan. Pendekatan yang lebih manusiawi diharapkan mampu memutus lingkaran Gen Z dan stres mental yang terus berulang dari bangku sekolah hingga kantor.
Pakar kesehatan jiwa menekankan pentingnya intervensi berlapis, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga pembuat kebijakan. Keluarga didorong untuk membuka ruang dialog tanpa menghakimi, khususnya ketika anak muda mulai mengungkapkan tekanan akademik atau pekerjaan. Dukungan emosional yang stabil di rumah terbukti dapat menurunkan beban Gen Z dan stres mental secara signifikan.
Komunitas dan organisasi pemuda juga berperan penting dengan menyediakan ruang aman untuk berbagi pengalaman, belajar teknik regulasi emosi, dan mencari bantuan profesional. Selain itu, kampanye publik yang menormalkan percakapan tentang kesehatan mental membantu mengurangi stigma yang selama ini menghalangi orang mencari pertolongan.
Pemerintah di berbagai negara mulai menyiapkan kebijakan untuk memperluas akses layanan psikologis dengan biaya terjangkau, memperbaiki sistem jaminan sosial, dan menata ulang kebijakan pendidikan serta ketenagakerjaan. Harapannya, kebijakan ini tidak hanya merespons krisis saat ini, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kokoh agar Gen Z dan stres mental tidak lagi menjadi kombinasi berulang di laporan survei global berikutnya.