Net Protozo – Paparan gas air mata kerap menimbulkan gejala akut yang terasa langsung di saluran pernapasan. Banyak orang yang terpapar melaporkan batuk hebat, sensasi dada terasa berat, hingga tenggorokan seperti dicekik. Gejala ini biasanya muncul hanya beberapa menit setelah kontak, dan pada sebagian kasus bisa berlangsung lebih lama terutama jika paparan terjadi di ruang tertutup.
Bagi individu dengan kondisi pernapasan seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dampak gas air mata bisa jauh lebih berbahaya. Mereka berisiko mengalami serangan sesak akut yang dapat berkembang menjadi kegagalan pernapasan. Inilah mengapa kelompok rentan sering kali membutuhkan penanganan medis segera setelah terpapar gas mata dalam jumlah besar.
Selain menyerang sistem pernapasan, gas air mata juga menimbulkan iritasi pada bagian tubuh lain. Mata biasanya terasa perih, memerah, dan berair sehingga membuat penglihatan menjadi kabur. Sementara itu, kulit yang terkena paparan langsung bisa mengalami sensasi panas, rasa terbakar, atau bahkan luka mirip iritasi kimia.
Gas air mata juga memengaruhi tenggorokan dan mulut. Korban sering merasakan sakit saat menelan, tenggorokan kering, hingga kesulitan berbicara akibat peradangan pada saluran atas. Gejala-gejala ini semakin memburuk jika paparan terjadi dalam durasi lama atau di area dengan sirkulasi udara buruk.
Baca Juga : Waspada Gula Darah Turun Drastis: Mengenal Risiko dan Cara Pencegahannya
Gas air mata bukan satu jenis senyawa, melainkan campuran dari beberapa bahan kimia yang dirancang khusus untuk memicu iritasi. Berikut beberapa zat utama yang biasa digunakan:
Efek gas air mata biasanya hilang dalam beberapa menit setelah menjauh dari sumber paparan. Namun, paparan berulang atau intens bisa menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang. Salah satunya adalah meningkatnya kerentanan terhadap infeksi pernapasan seperti bronkitis, pneumonia, hingga asma kronis.
Jika digunakan di ruang tertutup dengan ventilasi buruk, risiko kerusakan paru-paru permanen semakin besar. Beberapa laporan medis bahkan menyebutkan kemungkinan kerusakan jaringan paru yang dapat mengganggu fungsi pernapasan secara permanen. Kondisi ini bisa berakibat fatal, terutama bagi orang dengan daya tahan tubuh lemah atau memiliki riwayat penyakit kronis.
Menghindari paparan langsung adalah langkah paling efektif. Jika terpaksa berada di lokasi dengan potensi penggunaan gas air mata, gunakan kacamata pelindung dan masker untuk meminimalkan kontak dengan mata serta saluran pernapasan. Bila terpapar, segera menjauh ke area dengan sirkulasi udara yang baik.
Cuci mata dan kulit dengan air bersih mengalir untuk menghilangkan sisa partikel kimia. Hindari mengucek mata karena bisa memperburuk iritasi. Bagi penderita asma atau kondisi pernapasan lain, penggunaan inhaler dapat membantu meredakan gejala awal. Jika gangguan napas tidak mereda, segera cari bantuan medis agar penanganan lebih cepat dan komplikasi bisa dicegah.
Simak Juga : Ingin Pap Smear Gratis? BPJS Kesehatan Sediakan Layanannya
Gas air mata sering digolongkan sebagai senjata non-mematikan yang dipakai aparat untuk mengendalikan kerusuhan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dampaknya bisa mengancam keselamatan, terutama bagi kelompok rentan. Paparan berlebihan bukan hanya menyebabkan gangguan sementara, tapi juga bisa menimbulkan komplikasi serius.
Kesadaran akan bahaya ini perlu ditingkatkan, baik bagi masyarakat maupun aparat penegak hukum. Dengan pemahaman lebih baik tentang dampak kesehatan mata, diharapkan penggunaannya bisa lebih bijak, dan masyarakat lebih siap menghadapi risiko yang ada.